Jakarta - Indonesia berhasil memperjuangkan perpanjangan masa regulasi slot orbit satelit.
Keputusan tersebut ditetapkan berdasarkan persetujuan seluruh negara
anggota dalam sidang International Telecommunication Union (ITU) di World Radiocommunication Conference (WRC) 2019.
Ada
tiga slot yang diamankan, yakni Palapa C1-B (113 BT), Garuda-2 (123 BT)
dan PSN-146E (146 BT). Tidak mudah untuk mendapatkannya, delegasi
Indonesia harus melalui pembahasan yang panjang dan perundingan yang
alot pada tingkat sub working group, working group, dan committee di
sidang tersebut. http://dapatkiu.me/
"Delegasi Indonesia berhasil meyakinkan pentingnya slot orbit satelit
tersebut bagi penyediaan layanan pita lebar (broadband) yang diperlukan
untuk menunjang pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, dan penanganan
bencana alam di berbagai wilayah Indonesia," kata Helmy Fauzy, Duta
Besar RI untuk Mesir dalam keterangan resminya, Sabtu (23/11/2019).
Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kominfo
Ismail yang menjadi Ketua Delegasi RI di WRC-2019 mengatakan bahwa
keberhasilan tersebut merupakan buah dari negosiasi Indonesia terkait
koordinasi satelit dengan negara yang terdampak dengan filing satelit
Indonesia seperti Australia, Persatuan Emirat Arab, Tiongkok, Malaysia,
Luxemburg, Inggris, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Belanda, India, dan
Papua Nugini.
Sebagai informasi, filing satelit Palapa C1-B di slot orbit 113BT akan
digunakan untuk menempatkan satelit Nusantara Dua yang akan diluncurkan
tahun 2020. Adapun filing satelit PSN-146E di slot orbit 146BT akan
digunakan untuk menempatkan satelit Satria milik Bakti
Kominfo yang akan diluncurkan pada tahun 2023 untuk memberikan layanan
broadband untuk masyarakat Indonesia di daerah-daerah terluar,
tertinggal dan terdalam. Sementara filing satelit Garuda-2 di slot orbit
123BT akan digunakan untuk menempatkan satelit yang akan memberikan
layanan telepon satelit yang akan diluncurkan pada tahun 2024.
Apabila
Delegasi Indonesia gagal mendapatkan persetujuan, maka Indonesia tidak
dapat menempatkan satelit barunya menggunakan filing tersebut. Di lain
sisi, mengupayakan filing baru di slot orbit tersebut sudah sangat sulit
mengingat kepadatan slot orbit GSO tahun ini.
"Keberhasilan
Indonesia untuk mendapatkan perpanjangan waktu regulatori filing satelit
tersebut sangat strategis bagi kepentingan pemenuhan kebutuhan
masyarakat untuk akses telekomunikasi terutama di daerah-daerah terluar,
terdalam dan tertinggal," kata Ismail.
Untuk diketahui WRC 2019 berlangsung Sharm El Sheikh, Mesir pada
pada 28 Oktober - 22 November 2019. WRC merupakan sidang yang
dilaksanakan secara berkala oleh ITU setiap 4 (empat) tahun untuk
menyusun aturan dan rencana internasional mengenai penggunaan spektrum
frekuensi radio di masa depan serta peraturan internasional mengenai
penggunaan orbit satelit.
Hasil sidang WRC diadopsi dalam
Peraturan Radio ITU yang menjadi acuan perencanaan penggunaan frekuensi
radio nasional di Indonesia. Agenda yang dibahas dalam sidang WRC-19
mencakup perencanaan frekuensi radio untuk keperluan seluler/IMT,
satelit, penerbangan, maritim, kereta api, penginderaan jauh, serta
regulasi penggunaan slot orbit untuk satelit di Geostationary Orbit
(GSO) maupun Non-GSO.
Delegasi Indonesia sendiri terdiri atas
perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, KBRI Cairo,
Kementerian Perhubungan, LAPAN, operator satelit nasional dan operator
seluler nasional.
Jika anda tertarik, silahkan kunjungi situs resmi kami di http://dapatkiu.me.
Tags
Indonesia


إرسال تعليق